Tafsir Amaly Surat al-Baqarah 1-10
Tafsir Amaly Surat al-Baqarah 1-10
Tafsir Amaly Surat al-Baqarah 1-10
سُـوْرَةُ الْـبَقَرَة
AL BAQARAH (SAPI BETINA)
SURAT KE 2 :286 ayat
1. Alif laam miin.
Alif laam miim: 1. Kita baca al Qur’an walaupun tidak tahu artinya. Sebagaimana sabda nabi: “siapa yang membaca alif laam miim, maka mendapatkan pahalah tiga huruf”. Padahal biasa tidak tahu artinya. 2. Kita mengutamakan tawadhu’ dari pada pikiran kita. Misalnya: kita melaksanakan perintah wudlu meskipun belum paham. 3. Kita belajar bahasa Arab sebagai kewajiban fardlu’ain, karena alif laam miim merupakan sindiran agar kita belajar bahasa Arab. 4. Kita tidak ragu pada kebenaran al Qur’an, sebab sebagaian ulama’ mengatakan bahwa alif laam miim merupakan sumpah bahwa al Qura’an tiada ragu. 5. Kita meyakini bahwa seluruh al Qura’an adalah firman Allah untuk kita saja, bukan untuk orang lain. Sebagaimana nabi merasa terpanggil dengan panggilan “Alif laam miim”. 6. Kita kita tidak menghamba pada nama tetapi menghamba kepada Dzat yang Maha satu. Sebab sebagian ulama’ mengatakan bahwa alif laam miim merupakan nama lain dari Allah. 7. Kita memperhatian al Qur’an, karena karena sebagian ulama’ menyatakan bahwa alif laam miim untuk menarik perhatian. للمتقين
2. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
Dzalika al kitaabu: Kita berpedoman pada kitab untuk menghadapi hidup sepanjang zaman.
Laa roiba fiihi: 1. Kita meyakini bahwa al Qur’an tiada keraguan di dalamnya, benar – benar firman Allah, bukan buatan nabi Muhammad. Sehingga kita berpedoman pada suatu yang pasti. 2. Kita menggunakan akal untuk membektikan kebenaran al Qur’an, antara lain: a. Gelar al Amin (terpecaya) untuk Nabi Muhammad sejak kecil, sehingga secara akal tidak mungkin nabi Muhammad tiba – tiba membuat kebohongan. b. Nabi adalah seorang ummi (buta huruf) yang tidak mungkin menjipalk kitab yang lain. c. Nabi terusir dan diperangi sehingga tidak mungkin dalam rangka mempertahankan kebohongan. Isi al Qur’an untuk keagungan Allah dan akhirat, tidak mungkin buatan masnusia meskipun nabi. Sebab jika di buat manusia biasa, maka untuk kemuliyaan dirinya sendiri bukan untuk kemuliaan Allah. d. Syair al Qur’an 30 Juz yang luar biasa, tidak mungkin manusia tidak bersusah payah untuk membuatnya. e. al Qur’an sejagad raya sebagai bukti bahwa di buat oleh Yang Maha Kuasa.
Hudan lil muttaqiina: 1. Kita mohon petunjuk kepada Allah dengan cara belajar dan berguru untuk memahami dan mengamalkan al Qur’an. 2. Kita berusaha mendapat petunjuk dengan cara berpedoman pada al Qur’an saja, tidak yang lain. 3. Kita belajar menjadi muttaqin agar mendapat petunjuk dari Allah SWT melalui al Qur’an. 4 kita berusaha masuk pada lingkaran kebaikan demi mendapat petunjuk dari Allah sehingga menjadi orang takwa, dan karena menjadi orang yang takwa sehingga mendapat petunjuk dari Allah. 5. Kita belajar dan mengajarkan al Qur’an agar menjadi petunjuk bagi umat manusia.
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.
Alla dzina yu’minuuna: yu’minuuna berarti membikin percaya. Jadi, beriman bukan berarti tanpa usaha, tapi berusaha membikin hatinya beriman. Belajar membikin hati yakin atau percaya antara lain dengan: sholat, zakat, puasa, haji, belajar al Qur’an dan ada yang lain.
Bi al-ghoibi: Kita memperbanyak ingat bahwa hati dan amal selalu dilihat oleh Allah Yang Maha Ghoib.
Wa yuqiimuuna ash-sholataa: Kita belajar meningkatkan kualitas sholat dari muhajadah yaitu sholat yang di awali dengan takbir dan di akhir dengan salam, Lalu musyahadah yaitu menyaksikan Allah pada waktu melihat apapun, ini sholatnya para wali, lalu sholat munajah yaitu berdialog dengan Allah atau mengagungkannya(sholatnya para ulama’). 2. Kita mengutamakan ilmu sholat, karena seseorang tidak bias mengerjakan sholat kecuali mengetahui ilmunya. 3. Kita belajar atau berguru dan sholat kepda murid.
Wa mimma: sebagian rizki dari Allah kita nafkahkan. Baik sedikit maupun banyak, baik beupa harta,tenaga, ilmu, dan sebagainya. Nafkahnya badan adalah dzikir. “Laa ilaaha illallaah” (tiada tuhan selain Allah).
Rozaqnaa hum: Kita mendahulukan bahwa rizki semua dari Allah, sebelum kita menafkahkan sebagainnya.
Yunfiquuna: 1. Kita belajar membelanjakan harta untuk agama Allah, bukan harta kita dan bukan untuk menturutkan hawa nafsu kita. Kata yunfiqu berarti membelajankan bukan belanja. Bandingkan membeli nasi sama membeli ayah nasi. Belanja di jalan Allah itu kepentingan: iman, ibadah, akhlak.
2. kita belajar menafkahkan sebagian harta kita agar menjadi muttaqin sehingga mendapat petunjuk dari Allah (sehubungan dengan ayat sebelumnya).
4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
Wa alladziina yu’minuuna: iman bentuknya adalah yakin yang di upayakan dengan cara memperbanyak ingat. Semakin banyak ingat, maka semakin tinggi derajat yakinnya. Kita berusaha selalu ingat sehingga menjadi yakin, dengan cara belajar dan berguru pada ulama’.
Bima unzila: Kita meyakini bahwa al Qur’an diturunkan oleh Allah, bukan buatan Nabi Muhammad. Sehingga kita gunakan pedoman hidup, karena yakin datangnya dari Allah pasti benarnya.
Ilaika: Kita meyakini bawha Al Qur’an itu firman Allah kepada Nabi Muhammad, bukan cerita orang Nabi Muhammad.
Wa maa unziola min qoblika: 1. Kita meyakini bahwa Allah menurunkan petunjuk atau kitab pada umat sebelum kita. 2, kita meyakini bahwa semua di atur oleh Allah SWT, baik umat Nabi Muhammad SAW ataupun umat – umat terdahulu, dengan diturunkannya Kitab. Oleh karena itu, kita berpedoman kepada kitab al Qur’an. 3. Kita belajar iman pada seluruh kitab dengan cara mengimani kitab al Qur’an,karena al Qur’an mengandung dan membenarkan kitab sebelumnya, yaitu Zabur dan Injil. Kitab – kitab tersebut juga mengajarkan ketauhidan, bawha Tuhan Maha Satu, mengajarkan tentang nabi, malaikat dan sebagainnya.
Wa bi al khiroti: Kita memperbanyak ingat akhirat, sehingga memperbanyak amal sholeh untuk akhirat.
Hum yuuqinuuna: Kita mengarahkan keyakinan atau banyaknya ingat kepada hari akhir.
5. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Ulaa’ ika: Kita berusaha memenuhi ciri – ciri muttaqin sehingga termasuk kelompok “mereka itu”. Ciri – ciri muttaqin yaitu iman kepada yang ghoib, mendirikan sholat, menafkan sebagian rizki, iman pada kitab serta yakin terhadap akhirat.
‘ala hudan: Kita berusaha hidup selalu di atas petunjuk dengan cara menjadi muttaqin. Sebab, hanya orang yang bertakwa mendapatkan petunjuk. Nilai petunjuk lebih besar dari pada harga langit dan bumi.
Min robbihim: Kita hanya menggunakan petunjuk yang datangnya dari Allah saja, bukan dari yang lain.
Wa ulaa’ika humu al muflihuuna: 1. Kita meyakini bahwa orang yang beruntung adalah orang yang mendapatkan petunjuk dari tuhan mereka, yaitu berupa bimbingan untuk selalu menghamba kepadannya, bukanlah orang yang kaya, tampan, cantik, tinggi pangkatnya, dan sebagainnya. 2. Kita jadikan predikat muttaqin sabagai cita – cita atau tujuan hidup di dunia. Sebab muttaqin adalah orang yang beruntung, didunia mendapatkan petunjunk dan di akhirat mendapatkan surga.
6. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Inna alladziina kafaru: 1. Kita menghindari sifat kekafiran yaitu menutup dari ingat Allah dan akhirat. ( kafir adalah orang yang menutup contoh: Melihat air tidak ingat Allah yang menciptakan ). 2. Kita memohon kepada Allah agar kita di hindarkan dari kekafiran, dengan cara ingat Allah kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan apapun.
Sawaa’un ‘alaihim: kita menghindari menjadi tipe orang yang tidak ada bedanya. Apakah di ingatkan atau tidak.
A andzarhum: kita tetap mengikatkan orang kafir meskipun tidak ada gunanya. Kita mengikatkan mereka untuk membebaskan kewajiban, karena kewajiban kita hanya mengingatkan saja.
Am lam tundzir hum: Kita menghindari putus asa untuk mengiktkan, minimal dua kali.
Laa yu’minuuna: kita hindari sikap orang kafir yaitu tidak beriman meski di ingatkan. Sebab, ya itu berakibat masuk neraka selamanya.
7. Allah Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Khotama Allohu: kita takut dengan ancaman Allah berupa ditutupnya hati kita. Dengan cara menghindari menutup dari mengingat Allah. sebab menutup hati dari ingat Allah, maka Allah akan sekalian mengunci mati hati kita, sebagaimana orang munafik yang dikunci mati hatinya sehingga masuk dalam lingkaran setan. Sebaliknya, lingkaran nikmat bagi orang yang bertakwa yaitu semakin diberi petunjuk.
Alaa quluubihim: kita waspadai gerak hati kita karena bagaikan mesin atas perbuatan jasad kita. Jika hati baik, maka amal jasad kita baik dan jika hati kita jelek, makas jasad kita jelek.
Wa ‘alaa sam’ihim: 1. Kita takut ancaman Allah berupa di kunci mati pendengaran kita dari petunjuk. 2. Kita gunakan pendengaran kita untuk mendapat petunjuk. Misalnya : untuk mendegarkan Al-qur’an, pengajian dan sebagainya.
Wa ‘alaa abshoorihim: Kita berusaha menghilangkan tutupnya mata hati kita, yang menyebabkan tidak bisa melihat Maha Kuasanya Allah. Termasuk tidak bisa melihat Maha Kuasa Allah yang menhidupkan setelah mati.
Ghisyaawatun walahun azaabu adziimun:
1. Kita takut ancaman Allah untuk orang kafir.
2. Kita banyak ingat siksa neraka yang amat sangat besar. Sehingga kita berbuat segala sesuatu untuk menghindari neraka.
8. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
Wa mina an-naasi: 1. Kita banyak memperhatikan macam – macam manusia untuk di ambil pelajaran. 2. Kita mohon pada Allah agar di jadikan termasuk dari sebagian manusia yang baik, bukan yang jelek.
Man yaquulu: Kita berhati – hati dalam berbicara dalam berbicara dan menghindari berbicara untuk di ingkari atau tidak dilaksanakan, sebagaimana sifat orang.
Aamannaa bi Allohi wa bi al-yaumi al-aakhiri: Kita menghindari beriman kepada Allah dan hari akhir hanya diucapan saja. Sebab, iman pada Allah dan hari akhir itu tempatnya di hati dan dalam perbuatan.
Wa maa hum bimukminiina: 1. Kita menghindari mengaku menjadi orang yang telah beriman, tetapi kita berusaha beriman. Contoh lain : Kita menghindari mengaku menjadi orang yang lelah khusyu’ dalam sholat, tetapi kita belajar dari golongan orang yang beriman.
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka Hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
Yukhoodi’uuna Allooha: Kita menghindari menipu pada Allah. Termasuk menipu Allah yaitu berkata iman tapi hati kosong. Sebab Allah tidak bisa ditipu meskipun mengatakan iman tapi kosong, maka tetap disiksa di neraka.
Wa aaladziina aamanun: Kita menhindari menipu orang yang beriman. Tidak ada gunannya menipu orang yang beriman. Sebab orang yang beriman tidak bisa menghindarkan kita dari siksa Allah di akhirat .
Wa maa yakhda’uuna illaa anfusahum: kita menghindar menipu diri sendiri yang berakibat mencelakakan diri sendiri di dunia tidak dibina dan di akhirat masuk neraka selamanya.
Wa maa yasy ‘uruuna: 1. Kita menghindari tidak merasa lelah membohongi diri dan mencelakakan diri sendiri. 2. Kita berusaha segera sadar apabila telah membohongi diri. Sebab tidak merasa bersalah itu bahayanya lebih besar dari pada perbuatan salah itu sendiri. Jika setelah berbuat salah dan sadar akan kesalahan itu, maka kesalahan tersebut tidak akan berkelanjutan.
10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
Fii quluubihim mardlu : Kita menghindari adanya penyakit dalam hati. Penyakit dalam hati yaitu cinta didunia bukan penyakit liver, hepatitis, dan sebagainnya. Cinta dunia yaitu gila sanjugan atau takut di lecehkan, gila harta atau takut melarat, gila keluarga atau takut meninggalkannya, gila asrama dan sebagainnya. Penyakit hati sangat berbahaya karena sumber seluruh perbuatan dosa.
Fazaada humu Alloohu maradlon: 1. Kita hindari ditambahnya penyakit hati, dengan cara meninggalkan sifat munafik. 2. Kita hindari masuk lingkaran munafik, yaitu sudah ada penyakit hati malah ditambah penyakit hatinya oleh Allah. 3. Kita segera keluar dari lingkaran tersebut. Sebab jika tidak, maka situasi dan kondisi akan segera mendukungnya.
Wa lahum ‘adzaabun: kita memperbanyak takut pada ancaman Allah terhadap orang munafik yaitu mendapat siksa, sehingga kita hindari sifat munafik tersebut.
‘aliimun: kita memperbanyak ingat bahwa siksa neraka itu sangat pedih. Baunya neraka saja sudah sangat menyiksa. Andai bau neraka bocor sehingga mencemari dunia, maka buah-buahan dan makanan akan menjadi busuk dan orang-orang muntah semua.
Bimaa kaanu yakdzibuuna: kita menyakini bahwa siksa yang pedih itu dikarenakan kedustaan kita, bukan karena kejamnya Allah. Oleh karena itu, jika kita berbuat kesalahan, maka kita akui kesalahan itu dari kita. Dan jika kita berbuat kebaikan, maka kita yakini bahwa kebaikan itu adalah petunjuk dari Allah.
Oleh K.H.M. Qoyyim Ya'qub
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

lanjutannya mana?
BalasHapus